Jumat, 08 November 2013

AKU BERFIKIR TAPI DEBAR JANTUNG MENELANJANGI CINTA

Ketika aku merasa kian memahami tentang apa itu cinta Pertanyaanmu padaku membuatku terkesiap Iakah cinta itu diantara perasaan dan ruang sunyi? Di pantai, aku tulis tebal huruf-huruf cinta Angin menerbangkan pasir –pasir Di ruang kamar kubuka lemari Senyap. Pakaian juga perhiasan sebisunya batu Kutatap jam di dinding kamar Runcing jarum adalah kekosongan yang bunyi Pikiran dan perasaan yang berjalan di lorong hening Jika aku kini memilihmu, itu karena aku percaya perasaanku Mencintaimu. Seperti lebah membuat sarang madu, dan Tempat menetasnya anak-anak (Imron Tohari, lifespirit 12 March 2012)

Selasa, 10 April 2012

CERMIN DOSA

CERMIN DOSA


Penyair muda menatap lekat-lekat kearah lelaki di hadapannya. Sosok lelaki misterius yang dianggap sebagai gurunya dalam berkarya cipta.

Sesaat penyair muda membaca bait demi bait. Dia terlihat tertekan. Lelaki misterius tersenyum. Dari sela-sela jemari penyair muda, darah menetes.

Penyair muda merintih. Melanjutkan ke bait dua, jantungnya yang berdegup melompat keluar dari dalam tubuhnya. Berlepotan darah. Mengelepar. Darah kejujuran telah lenyap tetes demi tetes.

Di bait terakhir, wajahnya pucat pasi. Dalam hurup-hurup tadi ada ibunya tengah mengunyah jantungnya sendiri: tertera nama penyair muda di sana.

Lelaki mistrius tersenyum. Dimasukkannya jantung dan otak penyair muda ke kotak hitam, berlapis mori.

( lifespirit 7 April , 2012, Judul,Idea gagasan, diadopsi dari karya CerMin Kepompong Pijar Kelompok Studi Sastra Bianglala Asuhan Heru Emka )

NASIHAT BIJAK SANG BAPAK

NASIHAT BIJAK SANG BAPAK


Nak, kalau engkau ingin belajar politik dan seni bertempur
belajarlah ke negeri paman sam, di sana banyak Rambo

Jika kamu ingin menguasai seni berdagang
pergilah ke Negeri Cina, di sana gudangnya ilmu perdagangan

Tapi kalau kamu ingin jadi koruptor seperti bapak, di Indonesia saja
jika pun ketahuan, hukumannya tidak jauh beda
dengan kalau engkau kedapatan mencuri ayam

(puisi mbeling, lifespirit 9 April 2012)

Jumat, 06 April 2012

GAMBAR-GAMBAR

GAMBAR-GAMBAR


kehidupan seperti ketika di atas perahu
menatap laut
debar angin, pilihan menyakitkan

jika di dekatmu ada semacam semangat
dengan siapa engkau akan bertanya
tentang nyala api, bahasa labirin yang melingkar
serta sebentuk bibir bulat yang
meminum air mata

di dermaga, cerita belum usai
"sekarang berkat,esok berkat" pintamu lembut

tapi pernahkah engkau berfikir untuk
"kuatkan aku menerima kembali ujian kasih-Mu."

di atas perahu
engkau itu aku
gambar-gambar
tak berdaya


(lifespirit, 5 April 2012)

AKU RASA

AKU RASA

aku rasa tidak perlu lagi ramalan cuaca
musim sudah enggan diramal

aku rasa pemerintah tidak perlu sakit kepala
berfikir lahirkan kebijakan baru
mulanya wacana ke wacana, pada akhirnya juga
kembali berpusar ke wacana

aku rasa para politisi tak perlu repot
menghibur rakyat dengan senyum, tawa, dan raut wajah simpati
toh rakyat sudah terbiasa nonton sinetron dan telenovela di tv

aku rasa...

mati
rasa

(lifespirit, 6 April 2012)

Selasa, 03 April 2012

Gerimis yang Nyanyi*)


lukisan diunduh dari http://mustoni.blogdetik.com/files/2011/12/ikan-dan-kail.jpg

Gerimis yang Nyanyi*)


Gemericik air sungai begitu bening. Tiba-tiba terdengar lelaki tua menjerit. Ujung pegangan gagang pancing runcing dia tancapkan di tanah. Dengan tangan gemetar lelaki tua tadi melepaskan kait kail dari mulut ikan hasil tangkapannya.

Semakin dia gengam erat ikan itu, semakin kuat getaran tangan yang dia rasakan. Ikan yang menggelempar tadi lepas, terbanting ke tanah. Ikan itu terlihat megap-megap, dari dalam mulutnya mengintai burung pemakan bangkai yang menatap tajam ke arah lelaki tua. Dan lelaki tua pun telimpuh. Dari kedua kelopak cekung matanya, menitik air mata dengan gerimis yang nyanyi . Ianya, lelaki tua itu lalu berubah malam.


(CERMIN 100 Kata,Imron Tohari, lifespirit 4 April 2012)

*) Versi Cerita Mini 100 Kata, surealis

HUJAN

HUJAN


setiap alam membaca cuaca
menyederhanakan jalan-jalan
menepikan kebosanan yang berulang kali
aku berharap hujan menghantarku menemu engkau
dan kita luangkan waktu
duduk berhadap-hadapan

tapi entah kenapa
kini saat mendengar suara hujan
aku seperti membaca catatan kosong
jantung yang ragu-ragu
memaknai rindu


(Imron Tohari, lifespirit 3 April 2012)